Terlihat sebuah kendaraan besar bergerak mendekati lokasi. Setelah berhenti, sebuah pintu baja berat terbuka perlahan, mengeluarkan desis uap tebal. Dari dalam, sesosok makhluk raksasa melangkah keluar. Tingginya hampir empat meter, tubuhnya kekar penuh otot yang tampak seperti dipahat dari batu logam. Kulitnya kasar, berlapis pelindung tempur sintetis yang menggesek berat tiap kali ia bergerak. Di bahunya menempel pelontar plasma berukuran besar, sementara kedua tangannya menggenggam palu medan gravitasi yang berdengung rendah.

Wajah makhluk itu kosong. Tidak ada tanda-tanda kecerdasan. Hanya sorot merah dingin dari mata besarnya, dan satu perintah yang ditanamkan dalam chip kendali otaknya, hancurkan musuh.

Makhluk ini adalah salah satu monster yang ditaklukkan oleh The Circuit dari suatu planet. Karena kecerdasannya yang rendah namun memiliki kekuatan besar, The Circuit tertarik untuk menangkapnya dan menjadikannya sebagai peliharaan mereka. Sebuah chip khusus dipasang di otaknya agar bisa menurut apa yang diinginkan oleh pimpinan mereka. Selain itu makhluk ini menjadi salah satu petarung yang di unggulkan di arena kematian karena kekuatannya yang dapat mengalahkan banyak petarung kuat.

Biasanya mahluk ini hanya diturunkan untuk menghadapi para petarung kuat. Pimpinan The Circuit tahu, jika penonton melihat para petarung yang bertarung adalah orang-orang yang berhasil mengalahkan mahluk ini, maka menandakan mereka adalah petarung kuat di arena kematian, dan penonton tersebut akan rela membayar lebih mahal untuk menyaksikan.

Setelah mendapatkan laporan singkat dari Eliza, Pimpinan mereka segera mengirimkan mahluk ini untuk bala bantuan, tepat sebelum Mona meminta bantuan. Dan sesuai dugaan, orang-orang yang diperintahkan untuk menangkap Lynx, gagal.

Mona berdiri di ruang pengawasan, wajahnya tegang. Jemarinya menari di atas panel holografis di pergelangan tangannya.

"Aku tidak tahu mereka akan mengirim makhluk ini secepat itu…" gumamnya. Tatapannya terpaku pada Lynx yang masih berdiri tenang di depan monster itu. "Sepertinya mereka tak ingin mengambil risiko. Bunuh dia dulu, baru kita ambil pakaiannya. Hmph, lebih praktis."

Monster itu meraung, suara rendah yang diperkuat oleh sistem audio internal yang terpasang ditubuhnya, menciptakan tekanan udara seketika. Ia maju, tiap langkah mengguncang lantai, menghancurkan ubin dan menyisakan jejak retakan.

Palunya terangkat. Energi gravitasi menyala di sekeliling kepala senjata itu, memutar medan tak terlihat yang mampu melumat baja tebal sekalipun.

Lynx masih tak bergerak. Matanya di balik helm menyipit. Tubuhnya sedikit miring ke samping, seperti sengaja memberi ruang.

DUUUGHH!

Palunya menghantam lantai dengan kekuatan dahsyat. Retakan menjalar liar. Debu dan serpihan logam beterbangan. Tapi hanya udara kosong yang dihantam. Lynx sudah berpindah, berdiri beberapa langkah di belakang makhluk itu, tanpa suara.

Monster itu segera membalikkan badan dan menyerang lagi. Ayunan horizontal mengarah ke dada Lynx.

Namun, lagi-lagi, tubuh Lynx lenyap dari jalur serangan. Seperti bayangan yang melesat ringan, dia melompat ke sisi lain, membiarkan palu menghantam tiang baja di belakangnya hingga patah dengan dentuman keras.

Gerakan Lynx tidak hanya cepat, tapi elegan. Ia menghindar, melompat ringan, terkadang hanya dengan sedikit gerakan kepala atau bahu. Setiap serangan mengerikan dari monster itu terlihat sangat lambat dan lemah bagi Lynx.

"Mahkluk ini kuat, dan juga sebenarnya cepat. Tetapi dia bergerak tanpa berpikir." Batin Lynx sambil memperhatikan pergerakan makhluk didepannya.

Saat makhluk itu menyerangnya lagi, Lynx menghindar lagi dengan sangat santai.

Di balik helmnya, Lynx tersenyum tipis. Bahunya rileks, langkahnya ringan.

"Sudah lama… aku tidak bermain-main seperti ini," gumamnya lirih, serangan mematikan seperti ini dianggap sebagai sebuah permainan baginya. "Tidak buruk…"

Monster itu terus menyerang, tapi semakin beringas, semakin gerakannya terbaca. Lynx menari di sekelilingnya, seperti bayangan yang tak bisa disentuh. Dentuman demi dentuman menghancurkan sekeliling mereka, namun tidak satu pun menyentuh pemuda itu.

Mona menyaksikan semuanya dari layar. Napasnya mulai terputus-putus. Monster yang ia kira akan menjadi akhir dari Lynx, malah menjadi hiburan bagi lawannya.

"Ini... bukan pertarungan," bisiknya. "Dia... dia sedang bermain. Kekuatan baju itu sangat luar biasa. Aku harus menyelidiki kekuatan dibalik pakaian itu."

Meski dari luar, pakaian itu terlihat biasa dengan pakaian tempur yang biasa dia lihat dari berbagai ras, namun Mona yakin, terdapat teknologi khusus tersembunyi. Dia teringat dengan rangkaian rumit yang dilihatnya di mesin kotak kecil yang diberikan pemuda itu. Dari komponennya, Mona bertambah yakin, baju tersebut juga memiliki teknologi yang sama canggihnya dengan alat kecil tersebut.

Lynx memiringkan kepala, lalu berputar ke samping menghindari sabetan mematikan. Dalam satu putaran kecil, ia menyentuh punggung monster itu ringan dengan telapak tangan.

Makhluk itu meraung marah, mengaktifkan pelontar plasma di bahunya, melepaskan tembakan beruntun ke segala arah.

Namun saat asap membubung, Lynx sudah lenyap dari tempatnya berdiri dan muncul di sudut lain.

"Kurasa sudah cukup kita bermain-main," ucap Lynx sambil tersenyum. Dia segera melompat mundur dan menyimpan kembali baju tempurnya.

"Bagus, dia melepaskannya. Ini kesempatan bagus untuk membunuh pemuda itu." bisik Mona dengan wajah gembira.

Makhluk itu melangkah kearah Lynx dengan wajah marah. Langkahnya semakin dekat, napasnya berat dan panas, mengepul dari mulut lebarnya seperti asap dari kawah gunung berapi. Matanya merah menyala, dipenuhi nafsu membunuh. Otot di lengan dan bahunya menegang, urat-urat membengkak.

Dengan raungan memekakkan telinga, ia mengangkat palu besar bermuatan energi gravitasi. Energi mengalir seperti denyut nadi di sepanjang palu itu, menciptakan tekanan medan berat di sekitarnya.

Namun saat palu siap menghantam, tiba-tiba makhluk tersebut berhenti. Seluruh tubuhnya menegang, pupilnya menyempit.

Sreetttt!

Sesuatu melintas begitu cepat di udara. Tanpa suara, tanpa peringatan.

Tuk!

Leher makhluk itu terpotong bersih. Kepala besarnya terlempar, darah gelap menyembur dari batang lehernya dan membasahi lantai. Tubuhnya terhuyung dan jatuh dengan bunyi berdebam, menghancurkan puing di sekitarnya.

Mona terpaku di depan layar. Matanya membelalak, napas tercekat. "Apa yang… barusan…?"

Dari balik kabut debu dan darah, muncul sesosok wanita. Ia melangkah ringan seolah tak menyentuh tanah. Rambut hitam panjangnya diikat sederhana dengan pita perak, dan wajahnya putih bersih bagai porselen, dengan sorot mata bening yang menusuk jiwa.

Ia mengenakan pakaian khas kultivator—jubah putih bersih menjuntai hingga mata kaki, terbuat dari kain ringan yang tampak seperti kabut pagi. Di bahu dan lengan, sulaman perak membentuk motif api. Di pinggangnya tergantung sabuk kain biru langit.

Leena menarik napas pelan, lalu memasukkan kembali pedang panjangnya ke dalam sarung tanpa suara.

Ia berjalan mendekati Lynx yang masih berdiri diam.

Mona nyaris menjatuhkan peralatannya. "Itu… Leena?! Tidak mungkin! Dia... dia seharusnya sudah ditangkap! Bagaimana bisa…?"

Leena berdiri di hadapan Lynx. Matanya menyipit lembut. "Maaf membuatmu menunggu."

Lynx mengangguk pelan. "Apa yang terjadi padamu?"

Leena menatap ke arah tubuh makhluk yang baru saja ia bunuh, lalu menjawab, "Aku dijebak. Sara dan Eliza menipuku. Ternyata mereka berniat buruk terhadap kita dan ini semua sudah direncanakan oleh mereka. Saat aku bersama mereka, tiba-tiba mereka dan beberapa orang menyergapku lalu menembakkan peluru bius."

Leena mengingat kembali kejadian sebelumnya, dan menghela napas,"Karena tidak menduganya, aku kehilangan kewaspadaan dan mereka berhasil membiusku  Tapi untungnya qi spiritual dalam tubuhku menetralkan racunnya sehingga aku cepat sadar."

"Lalu bagaimana kamu bisa lepas dan datang ketempat ini?" Tanya Lynx dengan nada kaget dan khawatir. Sebelumnya dia sudah menduga jika Leena mengalami hal yang sama, dan dia juga sudah memeriksa sekitar lokasi ini , tidak ada orang yang memiliki kekuatan yang mampu melukai Leena sehingga dia tidak khawatir. Namun ternyata dia salah. Hampir saja dia kehilangan Leena lagi.

Leena mengangkat lengannya, memperlihatkan jejak tipis ikatan. "Saat sadar, aku sudah terikat dengan rantai di ruang bawah tanah. Mereka pikir aku tidak berdaya dan cukup dengan mengikatku menggunakan rantai biasa. Dengan mudah aku memutuskannya dan keluar dari tempat itu, tetapi aku tidak menemukan Eliza dan Sara. Aku hanya menghajar seluruh anak buah mereka."

